Tugas bahasa
Indonesia
Disusun
Oleh:
Nama:Madjaya iqtaroa purnomo
Kelas:IX9
T.P
:2016/2017
Judul :
Robohnya Surau Kami
Pengarang : A.A. Naifs
Taryn : Cetakan ketujuh belas: November 2010
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Dimensi : 142 halaman
Pengarang : A.A. Naifs
Taryn : Cetakan ketujuh belas: November 2010
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Dimensi : 142 halaman
Kata pengantar
Puji syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta karunian-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan resensi yang berjudul “ Robohnya Surau Kami ”
saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Adrawati selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Selain itu, saya berharap semoga laporan resensi buku novel Robohnya surau kami ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca dan menjadi referensi untuk menambah pengetahuan umum.
Oleh karena itu, saya mengharap segala kritik dan saran yang membangun dan dapat menjadikan laporan ini jauh lebih baik lagi. saya mohon maaf atas kesalahan maupun kekurangan dalam penyusunan laporan ini.
Hormat penulis
Madjaya iqtaro’a purnomo
sinopsis
Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin. Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok.
Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah.Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja.
Keunggulan : cerpen ini dari segi bahasa mudah dimengerti. Dari segi amanat cerpen ini memiliki pesan yang sangat religius dan yang dapat membuat pembaca sadar betapa pentingnya berusaha di dunia dan beribadah untuk akhirat.
Kelemahan : cerpen ini pemilihan kata masih banyak yang kurang baik seperti “sekali hari ini aku datang mengupah kakek.” Kalimat itu masih kurang efektif dalam pemilihan katanya.
Kesimpulan
Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis ini memang sebuah cerpen yang menarik dan baik. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan kesesuaiannya sebagai bahan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka cerpen “Robohnya Surau Kami” juga sangat cocok dan layak jika dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran karena bahasa yang digunakannya bisa dipahami. Tokoh-tokohnya pun tidak terlalu sulit untuk dipelajari, selain itu konflik-konflik psikologis yang dimunculkan masih sesuai dengan perkembangan psikologis dan latar budaya yang ditampilkannya pun masih tampak umum sehingga yang berlatar belakang budaya Islam, Kristen, Hindu, dan Budha pun dapat menerimanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar